UNESCO: Hak atas Pendidikan Kembali di Tengah Krisis Global
Di tengah dunia yang makin bising oleh konflik, krisis iklim, dan ketimpangan ekonomi, UNESCO kembali mengingatkan satu hal yang sering dianggap remeh tetapi justru paling fundamental: hak atas pendidikan. Dalam laporan dan pernyataan terbarunya, UNESCO menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar layanan publik, melainkan hak asasi manusia yang sedang berada dalam kondisi kritis secara global.
Pernyataan ini bukan alarm palsu. Data dan realitas di lapangan menunjukkan jutaan anak dan remaja masih kehilangan akses pendidikan layak, bahkan setelah dunia melewati fase terburuk pandemi. Di era digital dan kecerdasan buatan, ironisnya, kesenjangan pendidikan justru semakin melebar.
Artikel ini mengulas secara mendalam pernyataan UNESCO tentang hak atas pendidikan, mengapa isu ini kembali mengemuka, apa dampaknya bagi generasi muda, serta bagaimana masa depan pendidikan global dipertaruhkan jika dunia terus mengabaikannya.
Mengapa UNESCO Kembali Mengangkat Isu Hak atas Pendidikan?
UNESCO bukan pemain baru dalam isu pendidikan global. Sejak berdiri, organisasi ini menjadikan pendidikan sebagai fondasi perdamaian dan pembangunan. Namun, pernyataan terbaru ini muncul karena satu alasan utama: kemunduran serius dalam pemenuhan hak pendidikan di banyak negara.
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menghadapi kombinasi krisis yang saling bertabrakan. Pandemi memaksa sekolah tutup, konflik bersenjata menghancurkan infrastruktur pendidikan, krisis iklim membuat jutaan anak mengungsi, dan tekanan ekonomi mendorong banyak keluarga menarik anak dari sekolah.
UNESCO mencatat bahwa kemajuan pendidikan yang dibangun selama puluhan tahun terancam mundur. Banyak negara gagal memulihkan sistem pendidikan pascapandemi secara menyeluruh, sementara anggaran pendidikan justru dipangkas.
Pendidikan Bukan Sekadar Sekolah
Salah satu poin paling penting dalam pernyataan UNESCO adalah penegasan bahwa pendidikan tidak boleh dipersempit maknanya. Pendidikan bukan hanya tentang gedung sekolah, kurikulum, atau ujian nasional. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, berpartisipasi dalam masyarakat, dan hidup dengan martabat.
Ketika akses pendidikan terputus, dampaknya tidak hanya akademik. Anak-anak kehilangan ruang aman, struktur kehidupan, dan harapan masa depan. UNESCO menekankan bahwa kegagalan menyediakan pendidikan setara berarti membuka jalan bagi kemiskinan turun-temurun, konflik sosial, dan instabilitas politik.
Krisis Akses Pendidikan: Angka yang Mengkhawatirkan
UNESCO menyoroti bahwa jutaan anak di dunia masih berada di luar sistem pendidikan formal. Di wilayah konflik, sekolah sering menjadi target atau terpaksa ditutup. Di negara miskin, biaya pendidikan yang seharusnya gratis tetap menjadi beban besar bagi keluarga.
Anak perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok minoritas menjadi yang paling terdampak. Ketika sumber daya terbatas, pendidikan sering menjadi prioritas terakhir.
Lebih parah lagi, banyak anak yang secara statistik tercatat “bersekolah” tetapi tidak benar-benar belajar. Fenomena ini dikenal sebagai learning poverty, di mana siswa tidak memiliki kemampuan literasi dan numerasi dasar meski telah bertahun-tahun duduk di bangku sekolah.
Pendidikan Digital: Solusi atau Masalah Baru?
Dalam pernyataannya, UNESCO juga menyinggung peran teknologi dalam pendidikan. Selama pandemi, pendidikan digital dianggap sebagai penyelamat. Namun, UNESCO mengingatkan bahwa teknologi bukan solusi ajaib.
Sekolah online dan pembelajaran digital hanya efektif jika didukung akses internet, perangkat memadai, dan literasi digital. Di banyak negara, kondisi ini tidak terpenuhi. Akibatnya, pendidikan digital justru memperlebar jurang antara mereka yang mampu dan tidak mampu.
UNESCO menegaskan bahwa teknologi harus menjadi alat pendukung, bukan pengganti tanggung jawab negara dalam menyediakan pendidikan inklusif dan berkualitas.
Generasi Z dan Masa Depan yang Dipertaruhkan
Pernyataan UNESCO sangat relevan bagi Generasi Z dan generasi setelahnya. Mereka adalah generasi yang hidup di dunia serba cepat, tetapi juga penuh ketidakpastian. Pendidikan seharusnya menjadi bekal utama mereka menghadapi masa depan, bukan privilese segelintir orang.
Tanpa pendidikan yang setara, Generasi Z berisiko terjebak dalam siklus kerja informal, eksploitasi, dan ketidakstabilan ekonomi. UNESCO memperingatkan bahwa kegagalan hari ini akan menjadi krisis sosial besar di masa depan.
Lebih dari sekadar pekerjaan, pendidikan juga membentuk kesadaran sosial dan demokrasi. Generasi yang tidak terdidik dengan baik lebih rentan terhadap disinformasi, ekstremisme, dan manipulasi politik.
Tanggung Jawab Negara dan Dunia Internasional
UNESCO menegaskan bahwa hak atas pendidikan adalah tanggung jawab negara. Pemerintah tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pendidikan pada pasar atau sektor swasta. Pendidikan harus dibiayai secara memadai, diatur dengan adil, dan diawasi kualitasnya.
Namun, pernyataan ini juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional. Banyak negara berkembang tidak memiliki sumber daya cukup untuk membangun sistem pendidikan yang kuat. Di sinilah peran solidaritas global menjadi krusial.
UNESCO menyerukan agar negara maju tidak memandang bantuan pendidikan sebagai amal, melainkan investasi jangka panjang bagi stabilitas global.
Pendidikan dan Ketimpangan Global
Isu pendidikan tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan global. Negara kaya memiliki sistem pendidikan canggih, sementara negara miskin berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
UNESCO menekankan bahwa dunia tidak bisa berharap mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan jika ketimpangan pendidikan terus dibiarkan. Pendidikan adalah kunci untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan kesehatan, dan memperkuat perdamaian.
Ketika pendidikan gagal, dampaknya lintas batas. Migrasi paksa, konflik, dan instabilitas ekonomi tidak mengenal negara asal.
Suara Guru dan Tenaga Pendidik
Dalam pernyataannya, UNESCO juga menyoroti peran guru yang sering terabaikan. Guru berada di garis depan krisis pendidikan, tetapi banyak dari mereka bekerja dengan gaji rendah, pelatihan minim, dan tekanan tinggi.
Tanpa guru yang didukung dengan baik, kualitas pendidikan mustahil meningkat. UNESCO menyerukan peningkatan investasi pada pelatihan, kesejahteraan, dan perlindungan tenaga pendidik.
Guru bukan sekadar pengajar, tetapi agen perubahan sosial. Mengabaikan mereka berarti mengabaikan masa depan pendidikan itu sendiri.
Pendidikan sebagai Hak, Bukan Hadiah
Salah satu pesan paling kuat dari pernyataan UNESCO adalah bahwa pendidikan bukan hadiah bagi yang beruntung. Pendidikan adalah hak universal yang tidak boleh bergantung pada status ekonomi, gender, lokasi geografis, atau latar belakang sosial.
Narasi bahwa pendidikan adalah tanggung jawab individu semata dianggap berbahaya. Ketika negara lepas tangan, beban berpindah ke keluarga dan individu, memperbesar ketimpangan.
UNESCO menegaskan bahwa negara yang gagal menjamin pendidikan setara sedang mengkhianati generasi mudanya.
Apa Artinya bagi Indonesia dan Negara Berkembang?
Pernyataan UNESCO menjadi cermin bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski akses pendidikan meningkat secara kuantitas, kualitas dan pemerataan masih menjadi tantangan besar.
Kesenjangan antara kota dan desa, sekolah negeri dan swasta, serta akses teknologi menjadi isu nyata. Pernyataan UNESCO menegaskan bahwa memperluas akses saja tidak cukup tanpa peningkatan kualitas.
Investasi pendidikan harus dilihat sebagai prioritas strategis, bukan beban anggaran.
Masa Depan Pendidikan: Masih Ada Harapan?
Meski pernyataan UNESCO terdengar keras, ada pesan optimisme di baliknya. Pendidikan masih bisa diselamatkan jika dunia bertindak sekarang.
UNESCO mendorong reformasi sistem pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan berorientasi pada manusia. Pendidikan masa depan harus relevan dengan tantangan zaman, tetapi tetap berakar pada nilai kemanusiaan.
Teknologi, jika digunakan dengan bijak, bisa memperluas akses dan kualitas pendidikan. Namun, tanpa komitmen politik dan sosial, semua inovasi akan sia-sia.
Kesimpulan: Pendidikan adalah Fondasi Segalanya
Pernyataan UNESCO tentang hak atas pendidikan bukan sekadar laporan birokratis. Ini adalah peringatan keras bahwa dunia sedang mempertaruhkan masa depannya.
Pendidikan bukan isu pinggiran. Ia menentukan arah ekonomi, stabilitas sosial, dan perdamaian global. Mengabaikannya berarti menerima masa depan yang penuh ketimpangan dan konflik.
Di tengah perubahan dunia yang cepat, satu hal tetap konstan: pendidikan adalah hak, bukan pilihan. Dan hak itu harus diperjuangkan, dijaga, dan diwujudkan bersama.
