Perubahan Kepemimpinan Sistem Sekolah Terbesar di AS
New York City, pusat budaya dan ekonomi yang menjadi rumah bagi hampir satu juta pelajar, kini bersiap menghadapi perubahan signifikan dalam sektor pendidikan publiknya. Pada akhir Desember 2025, Mayor-elect Zohran Mamdani mengumumkan bahwa ia akan menunjuk Kamar Samuels sebagai Chancellor atau pemimpin sistem sekolah publik terbesar di Amerika Serikat — posisi yang penuh tantangan sekaligus peluang untuk mengubah arah pendidikan di kota yang tak pernah tidur ini. Chalkbeat
Penunjukan ini bukan sekadar pergantian tokoh di kursi pimpinan. Ini adalah sinyal perubahan kebijakan, prioritas pendidikan, dan pendekatan terhadap tantangan yang selama bertahun-tahun membayangi New York City Department of Education (NYC DOE) — yang mengurus lebih dari 900.000 siswa dan sekitar 135.000 staf pendidikan. New York Post
Dalam artikel panjang ini, kita akan menggali seluruh dimensi dari perubahan kepemimpinan ini: siapa Kamar Samuels, mengapa penunjukannya penting, situasi pendidikan di NYC saat ini, konteks politik di balik keputusan itu, serta apa saja implikasi jangka panjang bagi siswa, guru, orang tua, dan sistem sekolah secara keseluruhan.
Latar Belakang Sistem Sekolah NYC dan Signifikansinya
Sebelum memahami perubahan kepemimpinan, penting melihat skala dan dampak dari NYC public schools itu sendiri. Sistem ini bukan hanya terbesar di Amerika Serikat — ia juga salah satu sistem pendidikan paling kompleks di dunia, terdiri dari ribuan sekolah, puluhan distrik, dan siswa dari latar belakang ekonomi, ras, dan budaya yang sangat beragam. Wikipedia
Chancellor yang memimpin sistem ini tidak hanya bertanggung jawab atas manajemen operasional sehari-hari. Ia juga menentukan arah kebijakan yang bisa memengaruhi jutaan kehidupan — dari kurikulum, alokasi anggaran, perekrutan guru, hingga strategi inklusi sosial di tengah isu ketimpangan dan segregasi sekolah yang ada. Keputusan seorang chancellor bisa mengubah peluang di masa depan untuk generasi muda kota tersebut.
Siapa Kamar Samuels: Dari Pengajar sampai Pemimpin Sistem Publik
Kamar Samuels bukan figur politik biasa yang diangkat dari luar dunia pendidikan. Ia adalah pendidik karier yang telah bekerja hampir dua dekade di sistem sekolah publik New York City, memulai kariernya sebagai guru SD di Bronx, lalu menjadi kepala sekolah dan akhirnya superintendent di beberapa distrik, termasuk District 3 di Manhattan — area yang mencakup Upper West Side, Harlem, dan wilayah lain dengan tantangan keberagaman siswa yang tinggi. The Times of India
Selama kariernya, Samuels dikenal mendukung upaya integrasi sekolah, berupaya membawa lebih banyak keberagaman ke dalam kelas yang sebelumnya terfragmentasi secara rasial dan sosial. Ia juga terlibat dalam diskusi seputar program Gifted & Talented (G&T), yang selama ini menjadi topic politik pendidikan panas di NYC — sering dikritik sebagai kurang adil secara rasial — dan mendorong pendekatan kurikulum yang lebih inklusif. New York Post
Konteks Politik: Zohran Mamdani dan Visi Pendidikan Kota
Penunjukan Samuels tidak terlepas dari konteks politik yang lebih luas. Zohran Mamdani, yang baru dilantik sebagai Walikota New York City pada 1 Januari 2026, memiliki latar belakang progresif dan ide yang cukup radikal soal pemerintahan kota — termasuk dalam pendidikan. Wikipedia
Selama kampanye, Mamdani menuai perhatian karena kritiknya terhadap model mayoral control — di mana walikota memiliki otoritas kuat atas keputusan besar di pendidikan, termasuk penunjukan chancellor. Model ini sudah lama diterapkan di NYC dan menjadi subjek debat tentang seberapa besar pengaruh walikota terhadap jalannya sekolah. Wikipedia
Awalnya, Mamdani berencana mengakhiri mayoral control, berargumen bahwa keputusan penting harus lebih banyak melibatkan komunitas lokal — orang tua, guru, dan siswa. Namun menjelang akhir 2025, ia mengubah posisinya dan menyatakan akan meminta legislatif negara bagian untuk melanjutkan mayoral control sambil memperkuat keterlibatan komunitas dalam proses kebijakan pendidikan. Chalkbeat
Penunjukan Samuels — yang dipandang sebagai figur yang dapat menggabungkan pendekatan teknis pendidikan dengan prioritas politik Mamdani — mencerminkan kompromi strategis antara pengalaman pendidikan mendalam dan agenda kebijakan yang lebih luas.
Tantangan yang Diwariskan ke Kepemimpinan Baru
Meski perubahan pimpinan memberi harapan baru, Samuels akan menghadapi sejumlah tantangan struktural yang kompleks:
1. Kesenjangan Prestasi dan Kualitas Sekolah
NYC DOE telah lama berjuang dengan kesenjangan prestasi antarkelompok siswa, terutama antara siswa kaya dan miskin, serta antara sekolah di kawasan berbeda. Angka literasi dan numerasi masih menunjukkan disparitas besar di berbagai wilayah kota.
2. Penurunan Pendaftaran dan Ketidakstabilan Demografis
Beberapa tahun terakhir, pendaftaran di sekolah publik menurun, akibat perpindahan keluarga dari kota, pilihan homeschooling, atau serbuan sekolah charter dan sekolah swasta. Hal ini menciptakan tekanan fiskal dan tantangan alokasi sumber daya.
3. Rekrutmen dan Retensi Guru
NYC menghadapi tantangan besar dalam mengisi posisi guru khususnya di bidang pendidikan khusus, bilingual, matematika, dan sains. Kekurangan guru ini berdampak langsung pada kualitas pembelajaran di kelas. Chalkbeat
4. Homelessness dan Dampak Sosial terhadap Pendidikan
Tidak semua tantangan bersifat akademis. Statistik terbaru menunjukkan ribuan siswa tinggal dalam kondisi tidak tetap atau tanpa rumah, yang jelas memengaruhi kemampuan mereka untuk fokus dan berkembang di sekolah. Wikipedia
Kebijakan dan Prioritas Samuels yang Mungkin Muncul
Belum lama setelah pengumuman penunjukan, kata-kata Samuels mencerminkan fokus pada beberapa prioritas kunci:
Investasi Pendidikan yang Lebih Besar
Samuels menekankan perlunya pembiayaan yang cukup untuk sekolah, yang tidak hanya melibatkan anggaran dasar operasional, tetapi juga investasi untuk bidang prioritas seperti pendidikan khusus, bilingual, serta STEM (science, technology, engineering, mathematics). Education Week
Keterlibatan Komunitas dan Keadilan Sosial
Mengikuti arah politik Mamdani, Samuels menunjuk keterlibatan komunitas sebagai prioritas kebijakan. Ini termasuk membuka ruang dialog dengan orang tua dan organisasi lokal dalam proses pengambilan keputusan sekolah.
Menangani Segregasi Sekolah
Program integrasi yang pernah dipimpin Samuels di tingkat distrik kini menjadi sinyal kemungkinan pendekatan yang lebih terstruktur untuk mengatasi segregasi di seluruh sistem sekolah lebih luas.
Reaksi Publik dan Beragam Suara yang Muncul
Penunjukan Samuels dipandang positif oleh banyak pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan karena pengalamannya yang luas di sistem publik dan fokus pada inklusi. Namun, tidak semuanya mendukung langkah ini.
Beberapa opini publik menyuarakan kekhawatiran bahwa perubahan kebijakan, seperti pengaturan ulang program Gifted & Talented atau pendekatan terhadap mayoral control, bisa berdampak negatif bagi segmen siswa tertentu dan mengurangi pilihan pendidikan yang selama ini dianggap sebagai jalur prestasi tinggi. New York Post
Apa Arti Perubahan Ini Bagi Masa Depan Pendidikan di AS?
Penunjukan Kamar Samuels sebagai Chancellor bukan hanya berita lokal. Karena skala dan kompleksitas sistem NYU DOE, apa yang terjadi di New York City seringkali menjadi barometer untuk tren pendidikan nasional. Jika kebijakan baru berhasil meningkatkan hasil pendidikan, mengurangi jurang ketimpangan, dan memperkuat keterlibatan komunitas, model ini bisa diadaptasi oleh kota besar lain di AS.
Sebaliknya, jika perubahan ini menghadapi hambatan besar — baik politis maupun struktural — ini bisa menjadi studi kasus lebih lanjut tentang batasan reformasi pendidikan di negara yang semakin beragam dan kompleks.
Kesimpulan: Titik Balik atau Tantangan Lama yang Berulang?
Penunjukan Kamar Samuels sebagai Chancellor sekolah publik terbesar di AS menandai periode baru dalam sejarah pendidikan New York City. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat, fokus pada integrasi dan keadilan, serta dukungan dari walikota progresif, Samuels menghadapi peran yang sarat dengan harapan besar.
Namun, tantangan di hadapannya juga besar dan berakar kuat pada isu struktural lama: ketimpangan akses, kualitas pendidikan, kekurangan guru, dan tantangan sosial yang memengaruhi siswa di luar ruang kelas.
Bagaimanapun hasilnya, perubahan ini akan diperhatikan tidak hanya oleh pendidik dan pembuat kebijakan di AS, tetapi juga oleh pengamat pendidikan global, yang melihat New York City sebagai laboratorium kebijakan publik yang dinamis dan berpengaruh.
