Januari 15, 2026
Gelar Universitas di Inggris Tak Lagi Jaminan Mobilitas Sosial

Gelar Universitas di Inggris Tak Lagi Jaminan Mobilitas Sosial

Dalam sepucuk pernyataan yang mengguncang diskursus pendidikan tinggi di Inggris, Professor Shitij Kapur, Vice-Chancellor dan Presiden King’s College London, menyampaikan bahwa gelar universitas di Inggris kini tidak lagi berfungsi sebagai “paspor” untuk mobilitas sosial sebagaimana dipahami selama beberapa dekade terakhir. Pernyataan ini mencerminkan perubahan struktural di pasar kerja, sistem pendidikan tinggi, dan harapan generasi muda yang memasuki dunia profesional.

Selama ini, gelar sarjana dipandang sebagai tiket yang membuka pintu menuju karier mapan, penghasilan lebih baik, dan posisi sosial yang lebih tinggi. Namun kini, realitas global yang melibatkan surplus lulusan, ekonomi stagnan, dan transformasi teknologi — termasuk kecerdasan buatan — membuat janji itu semakin goyah. Artikel ini mengulas secara menyeluruh fenomena ini dari berbagai sisi: apa yang dimaksud dengan mobilitas sosial, bagaimana dinamika pendidikan tinggi berkembang di Inggris, akar permasalahan yang memengaruhi relevansi gelar, serta implikasi jangka panjang untuk generasi Z dan sistem pendidikan secara luas.


Apa Itu Mobilitas Sosial dan Mengapa Gelar Pernah Jadi Kunci?

Mobilitas sosial merujuk pada kemampuan seseorang untuk naik (atau turun) dalam hierarki ekonomi dan sosial dibandingkan status keluarganya. Di banyak negara Barat, terutama sejak era pascaperiode Perang Dunia II, pendidikan tinggi memainkan peran sentral dalam membuka kesempatan bagi individu dari latar belakang kurang beruntung untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Di Inggris, perluasan akses ke universitas selama beberapa dekade terakhir telah membuat pendidikan tinggi lebih inklusif. Sekitar setengah populasi muda sekarang memasuki pendidikan tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa generasi lalu. Namun peningkatan ini membawa konsekuensi tak terduga: bertambahnya jumlah lulusan melebihi pertumbuhan lapangan kerja yang memerlukan gelar sarjana, sehingga nilai relatif dari gelar itu sendiri menurun.

Professor Kapur bahkan menyamakan gelar sekarang sebagai semacam visa untuk memasuki arena pasar kerja — memberi akses, bukan jaminan keberhasilan.


Surplus Lulusan dan Pasar Kerja yang Stagnan

Salah satu faktor utama yang disebut Kapur adalah kondisi pasar kerja Inggris yang tidak tumbuh seiring dengan jumlah lulusan baru. Ketika hampir setengah dari generasi muda memiliki gelar sarjana, persaingan di antara pencari kerja lulusan universitas semakin ketat. Situasi ini diperparah oleh:

  • Stagnasi ekonomi yang membatasi ekspansi sektor profesional,
  • Globalisasi tenaga kerja, di mana talenta dari berbagai negara ikut bersaing,
  • Otomatisasi dan penggunaan teknologi, yang menggantikan beberapa peran tradisional yang dahulu menguntungkan lulusan baru.

Akibatnya, gelar saja tidak cukup untuk memastikan lulusan mendapatkan pekerjaan berkualitas tinggi atau stabilitas finansial. Banyak lulusan kini menemukan diri mereka bekerja dalam posisi yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikan mereka, sebuah fenomena yang dikenal dalam sosiologi pendidikan sebagai pengangguran terselubung atau overqualification.


Ketimpangan Berdasarkan Jurusan dan Institusi

Pergeseran nilai gelar juga terkait erat dengan jurusan yang diambil dan reputasi institusi. Tidak semua gelar memiliki dampak yang setara terhadap peluang kerja. Misalnya:

  • Jurusan di bidang STEM (sains, teknologi, engineering, matematika) sering memiliki permintaan pasar yang lebih tinggi,
  • Jurusan humaniora atau seni liberal kadang menghadapi lebih banyak tantangan dalam menemukan pekerjaan sesuai bidangnya.

Selain itu, reputasi universitas juga semakin menentukan. Dalam pasar yang kompetitif, lulusan dari institusi elite seperti Oxford, Cambridge, atau King’s College London sering memiliki keunggulan dibanding lulusan dari perguruan tinggi yang kurang dikenal — baik dari sisi jaringan profesional maupun daya tarik di mata pemberi kerja. Hal ini bertentangan dengan narasi lama bahwa semua gelar punya nilai setara dalam mendorong mobilitas sosial.


Kesenjangan Akses dan Hambatan Struktural yang Masih Ada

Meski akses ke universitas lebih luas, kenyataannya barrier struktural tetap menghambat mobilitas sosial. Data beberapa indeks mobilitas sosial menunjukkan bahwa lulusan dari latar belakang kurang beruntung masih menghadapi kesulitan lebih besar dalam meraih hasil akhir yang tinggi atau berkarier di bidang bergaji tinggi dibandingkan rekan mereka yang berasal dari keluarga dengan sumber daya lebih banyak.

Hambatan ini bukan hanya soal gelar, tetapi juga mencakup:

  • Kualitas pendidikan dasar dan menengah yang berbeda antar wilayah,
  • Keterbatasan sumber daya untuk pendampingan pendidikan individu,
  • Rantai jaringan sosial dan profesional yang cenderung eksklusif,
  • Biaya hidup yang tinggi di kota besar yang menjadi pusat pekerjaan bergaji tinggi.

Pendidikan Tinggi Tidak Dapat Berdiri Sendiri

Diskusi di Inggris juga menunjukkan bahwa gelar universitas tidak bisa berdiri sendiri sebagai alat transformasi sosial tanpa dukungan dari faktor lain seperti:

  • Kebijakan ekonomi yang menciptakan lapangan kerja berkualitas,
  • Perubahan struktur pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan,
  • Sistem magang dan kemitraan industri yang kuat.

Menurut beberapa analis pendidikan, untuk memastikan universitas tetap relevan dalam mendorong mobilitas sosial, perlu ada “action plan” yang konkret yang menghubungkan pendidikan tinggi, peluang kerja, dan dukungan berkelanjutan bagi lulusan dari latar belakang berbeda.


Realitas Generasi Z: Harapan dan Kenyataan

Generasi Z tumbuh dalam era where information access and learning opportunities seem limitless, tetapi realitas pekerjaan seringkali tidak sejalan dengan ekspektasi. Banyak dari mereka memasuki pendidikan tinggi dengan harapan bahwa gelar akan membuka jalan ke pekerjaan profesional dengan stabilitas dan kompensasi yang baik. Namun kenyataannya membantu menjelaskan mengapa generasi ini semakin mempertimbangkan alternatif pendidikan non-formal seperti kursus teknis, sertifikasi keahlian, dan pendidikan berbasiskan proyek yang lebih langsung terhubung dengan kebutuhan dunia kerja aktual.

Diskusi online dan forum studi juga mencerminkan opini bahwa banyak pekerjaan kini tidak lagi memerlukan gelar tradisional, atau kemampuan untuk naik ke karier bergengsi bisa dimulai dari jalur pelatihan terapan atau pengalaman langsung.


Perubahan Kebijakan dan Peran Pemerintah

Pernyataan Kapur pun tidak terlepas dari kritik terhadap kebijakan pemerintah seputar pendidikan tinggi. Di Inggris, biaya kuliah yang tinggi dan dukungan finansial yang menurun sejak beberapa dekade terakhir membuat banyak mahasiswa lulus dengan beban utang yang signifikan. Hal ini menambah tekanan bagi lulusan yang sudah menghadapi pasar kerja yang ketat.

Selain itu, perdebatan tentang peran mahasiswa internasional juga mencuat. Biaya kuliah mahasiswa internasional menjadi sumber penting pendanaan universitas, tetapi ketergantungan ini menimbulkan pertanyaan tentang prioritas kebijakan yang seimbang antara pendidikan domestik dan pendanaan riset berkualitas tinggi.


Dampak Jangka Panjang jika Tidak Ada Reformasi

Tanpa perubahan yang menyeluruh, beberapa konsekuensi yang mungkin muncul meliputi:

  • Fragmentasi pasar kerja, di mana hanya lulusan dari segelintir institusi top yang menikmati akses penuh ke pekerjaan bergaji tinggi.
  • Ketidakpuasan generasi muda, yang dapat mengakibatkan penurunan partisipasi dalam pendidikan tradisional.
  • Perkembangan ketimpangan sosial yang lebih tajam, karena gelar tidak lagi mengatasi hambatan sistemik yang menghalangi akses ke peluang profesional.

Menentukan Ulang Peran Gelar Universitas

Penting dipahami bahwa pernyataan Kapur bukan berarti pendidikan tinggi kehilangan nilainya secara mutlak. Sebaliknya, ini merupakan panggilan kuat untuk memikirkan kembali peran gelar dalam konteks dunia yang berubah cepat.

Beberapa arah penting ke depan termasuk:

  • Memperkuat hubungan antara universitas dan industri,
  • Pengembangan jalur karier yang lebih fleksibel dan relevan,
  • Penekanan pada keterampilan digital, berpikir kritis, dan pembelajaran sepanjang hayat,
  • Dukungan yang lebih besar bagi kelompok yang kurang terwakili.

Kesimpulan: Gelar Sudah Tidak Cukup, Adaptasi Adalah Jawaban

Fenomena gelar universitas yang tidak lagi menjamin mobilitas sosial menunjukkan transformasi fundamental dalam hubungan antara pendidikan dan dunia ekonomi. Ketika gelar semakin meluas dan jumlah lulusan meningkat tajam, nilai relatifnya menurun jika tidak diimbangi dengan kesempatan kerja yang seimbang serta sistem pendukung yang kuat.

Pernyataan tentang gelar sebagai “visa” menunjukkan bahwa gelar kini lebih menjadi awal dari perjalanan profesional, bukan tiket pasti menuju sukses. Untuk generasi muda, ini berarti strategi pendidikan harus dipadukan dengan pengembangan keterampilan langsung, pengalaman nyata, dan adaptasi terhadap perubahan pasar kerja.

Diskursus ini bukan sekadar refleksi akademik, tetapi panggilan untuk reformasi yang lebih luas — dari kebijakan pemerintah, peran universitas, hingga cara generasi Z memandang pendidikan dan karier mereka. Gelar akan tetap penting, tetapi kemampuan beradaptasi, keterampilan konkret, dan jaringan profesional kini menjadi komponen yang tak kalah penting dalam mobilitas sosial di abad ke-21.Gelar Universitas di Inggris Tak Lagi Jaminan Mobilitas Sosial: Analisis Mendalam tentang Pergeseran Paradigma Pendidikan Tinggi

Dalam sepucuk pernyataan yang mengguncang diskursus pendidikan tinggi di Inggris, Professor Shitij Kapur, Vice-Chancellor dan Presiden King’s College London, menyampaikan bahwa gelar universitas di Inggris kini tidak lagi berfungsi sebagai “paspor” untuk mobilitas sosial sebagaimana dipahami selama beberapa dekade terakhir. Pernyataan ini mencerminkan perubahan struktural di pasar kerja, sistem pendidikan tinggi, dan harapan generasi muda yang memasuki dunia profesional. 

Selama ini, gelar sarjana dipandang sebagai tiket yang membuka pintu menuju karier mapan, penghasilan lebih baik, dan posisi sosial yang lebih tinggi. Namun kini, realitas global yang melibatkan surplus lulusan, ekonomi stagnan, dan transformasi teknologi — termasuk kecerdasan buatan — membuat janji itu semakin goyah. Artikel ini mengulas secara menyeluruh fenomena ini dari berbagai sisi: apa yang dimaksud dengan mobilitas sosial, bagaimana dinamika pendidikan tinggi berkembang di Inggris, akar permasalahan yang memengaruhi relevansi gelar, serta implikasi jangka panjang untuk generasi Z dan sistem pendidikan secara luas.


Apa Itu Mobilitas Sosial dan Mengapa Gelar Pernah Jadi Kunci?

Mobilitas sosial merujuk pada kemampuan seseorang untuk naik (atau turun) dalam hierarki ekonomi dan sosial dibandingkan status keluarganya. Di banyak negara Barat, terutama sejak era pascaperiode Perang Dunia II, pendidikan tinggi memainkan peran sentral dalam membuka kesempatan bagi individu dari latar belakang kurang beruntung untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Di Inggris, perluasan akses ke universitas selama beberapa dekade terakhir telah membuat pendidikan tinggi lebih inklusif. Sekitar setengah populasi muda sekarang memasuki pendidikan tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa generasi lalu. Namun peningkatan ini membawa konsekuensi tak terduga: bertambahnya jumlah lulusan melebihi pertumbuhan lapangan kerja yang memerlukan gelar sarjana, sehingga nilai relatif dari gelar itu sendiri menurun. 

Professor Kapur bahkan menyamakan gelar sekarang sebagai semacam visa untuk memasuki arena pasar kerja — memberi akses, bukan jaminan keberhasilan. 


Surplus Lulusan dan Pasar Kerja yang Stagnan

Salah satu faktor utama yang disebut Kapur adalah kondisi pasar kerja Inggris yang tidak tumbuh seiring dengan jumlah lulusan baru. Ketika hampir setengah dari generasi muda memiliki gelar sarjana, persaingan di antara pencari kerja lulusan universitas semakin ketat. Situasi ini diperparah oleh:

  • Stagnasi ekonomi yang membatasi ekspansi sektor profesional,
  • Globalisasi tenaga kerja, di mana talenta dari berbagai negara ikut bersaing,
  • Otomatisasi dan penggunaan teknologi, yang menggantikan beberapa peran tradisional yang dahulu menguntungkan lulusan baru. 

Akibatnya, gelar saja tidak cukup untuk memastikan lulusan mendapatkan pekerjaan berkualitas tinggi atau stabilitas finansial. Banyak lulusan kini menemukan diri mereka bekerja dalam posisi yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikan mereka, sebuah fenomena yang dikenal dalam sosiologi pendidikan sebagai pengangguran terselubung atau overqualification


Ketimpangan Berdasarkan Jurusan dan Institusi

Pergeseran nilai gelar juga terkait erat dengan jurusan yang diambil dan reputasi institusi. Tidak semua gelar memiliki dampak yang setara terhadap peluang kerja. Misalnya:

  • Jurusan di bidang STEM (sains, teknologi, engineering, matematika) sering memiliki permintaan pasar yang lebih tinggi,
  • Jurusan humaniora atau seni liberal kadang menghadapi lebih banyak tantangan dalam menemukan pekerjaan sesuai bidangnya.

Selain itu, reputasi universitas juga semakin menentukan. Dalam pasar yang kompetitif, lulusan dari institusi elite seperti Oxford, Cambridge, atau King’s College London sering memiliki keunggulan dibanding lulusan dari perguruan tinggi yang kurang dikenal — baik dari sisi jaringan profesional maupun daya tarik di mata pemberi kerja. Hal ini bertentangan dengan narasi lama bahwa semua gelar punya nilai setara dalam mendorong mobilitas sosial


Kesenjangan Akses dan Hambatan Struktural yang Masih Ada

Meski akses ke universitas lebih luas, kenyataannya barrier struktural tetap menghambat mobilitas sosial. Data beberapa indeks mobilitas sosial menunjukkan bahwa lulusan dari latar belakang kurang beruntung masih menghadapi kesulitan lebih besar dalam meraih hasil akhir yang tinggi atau berkarier di bidang bergaji tinggi dibandingkan rekan mereka yang berasal dari keluarga dengan sumber daya lebih banyak. 

Hambatan ini bukan hanya soal gelar, tetapi juga mencakup:

  • Kualitas pendidikan dasar dan menengah yang berbeda antar wilayah,
  • Keterbatasan sumber daya untuk pendampingan pendidikan individu,
  • Rantai jaringan sosial dan profesional yang cenderung eksklusif,
  • Biaya hidup yang tinggi di kota besar yang menjadi pusat pekerjaan bergaji tinggi.

Pendidikan Tinggi Tidak Dapat Berdiri Sendiri

Diskusi di Inggris juga menunjukkan bahwa gelar universitas tidak bisa berdiri sendiri sebagai alat transformasi sosial tanpa dukungan dari faktor lain seperti:

  • Kebijakan ekonomi yang menciptakan lapangan kerja berkualitas,
  • Perubahan struktur pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan,
  • Sistem magang dan kemitraan industri yang kuat.

Menurut beberapa analis pendidikan, untuk memastikan universitas tetap relevan dalam mendorong mobilitas sosial, perlu ada “action plan” yang konkret yang menghubungkan pendidikan tinggi, peluang kerja, dan dukungan berkelanjutan bagi lulusan dari latar belakang berbeda. 


Realitas Generasi Z: Harapan dan Kenyataan

Generasi Z tumbuh dalam era where information access and learning opportunities seem limitless, tetapi realitas pekerjaan seringkali tidak sejalan dengan ekspektasi. Banyak dari mereka memasuki pendidikan tinggi dengan harapan bahwa gelar akan membuka jalan ke pekerjaan profesional dengan stabilitas dan kompensasi yang baik. Namun kenyataannya membantu menjelaskan mengapa generasi ini semakin mempertimbangkan alternatif pendidikan non-formal seperti kursus teknis, sertifikasi keahlian, dan pendidikan berbasiskan proyek yang lebih langsung terhubung dengan kebutuhan dunia kerja aktual.

Diskusi online dan forum studi juga mencerminkan opini bahwa banyak pekerjaan kini tidak lagi memerlukan gelar tradisional, atau kemampuan untuk naik ke karier bergengsi bisa dimulai dari jalur pelatihan terapan atau pengalaman langsung. 


Perubahan Kebijakan dan Peran Pemerintah

Pernyataan Kapur pun tidak terlepas dari kritik terhadap kebijakan pemerintah seputar pendidikan tinggi. Di Inggris, biaya kuliah yang tinggi dan dukungan finansial yang menurun sejak beberapa dekade terakhir membuat banyak mahasiswa lulus dengan beban utang yang signifikan. Hal ini menambah tekanan bagi lulusan yang sudah menghadapi pasar kerja yang ketat.

Selain itu, perdebatan tentang peran mahasiswa internasional juga mencuat. Biaya kuliah mahasiswa internasional menjadi sumber penting pendanaan universitas, tetapi ketergantungan ini menimbulkan pertanyaan tentang prioritas kebijakan yang seimbang antara pendidikan domestik dan pendanaan riset berkualitas tinggi. 


Dampak Jangka Panjang jika Tidak Ada Reformasi

Tanpa perubahan yang menyeluruh, beberapa konsekuensi yang mungkin muncul meliputi:

  • Fragmentasi pasar kerja, di mana hanya lulusan dari segelintir institusi top yang menikmati akses penuh ke pekerjaan bergaji tinggi.
  • Ketidakpuasan generasi muda, yang dapat mengakibatkan penurunan partisipasi dalam pendidikan tradisional.
  • Perkembangan ketimpangan sosial yang lebih tajam, karena gelar tidak lagi mengatasi hambatan sistemik yang menghalangi akses ke peluang profesional.

Menentukan Ulang Peran Gelar Universitas

Penting dipahami bahwa pernyataan Kapur bukan berarti pendidikan tinggi kehilangan nilainya secara mutlak. Sebaliknya, ini merupakan panggilan kuat untuk memikirkan kembali peran gelar dalam konteks dunia yang berubah cepat.

Beberapa arah penting ke depan termasuk:

  • Memperkuat hubungan antara universitas dan industri,
  • Pengembangan jalur karier yang lebih fleksibel dan relevan,
  • Penekanan pada keterampilan digital, berpikir kritis, dan pembelajaran sepanjang hayat,
  • Dukungan yang lebih besar bagi kelompok yang kurang terwakili.

Kesimpulan: Gelar Sudah Tidak Cukup, Adaptasi Adalah Jawaban

Fenomena gelar universitas yang tidak lagi menjamin mobilitas sosial menunjukkan transformasi fundamental dalam hubungan antara pendidikan dan dunia ekonomi. Ketika gelar semakin meluas dan jumlah lulusan meningkat tajam, nilai relatifnya menurun jika tidak diimbangi dengan kesempatan kerja yang seimbang serta sistem pendukung yang kuat.

Pernyataan tentang gelar sebagai “visa” menunjukkan bahwa gelar kini lebih menjadi awal dari perjalanan profesional, bukan tiket pasti menuju sukses. Untuk generasi muda, ini berarti strategi pendidikan harus dipadukan dengan pengembangan keterampilan langsung, pengalaman nyata, dan adaptasi terhadap perubahan pasar kerja.

Diskursus ini bukan sekadar refleksi akademik, tetapi panggilan untuk reformasi yang lebih luas — dari kebijakan pemerintah, peran universitas, hingga cara generasi Z memandang pendidikan dan karier mereka. Gelar akan tetap penting, tetapi kemampuan beradaptasi, keterampilan konkret, dan jaringan profesional kini menjadi komponen yang tak kalah penting dalam mobilitas sosial di abad ke-21.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link